Ground fighting (also ground work or ground game) is hand-to-hand combat which takes place while the combatants are on the ground, generally involving grappling. It is the main focus of Brazilian Jiu-Jitsu and is featured in varying amounts in Catch wrestling, Judo, Sambo, Shoot wrestling and other styles of wrestling.
Kamis, 26 November 2015
Rabu, 25 November 2015
LUTA LIVRE - TRAINING SESSION
PART 1 DRILLS
PART 2 LESSON
PART 3 FIGHTS
Trainingsimpressions of Luta Livre Acadamy Dortmund
Perbedaan Antara LUTA LIVRE dan BJJ - Part 3 (END)
Penjelesan Tentang Perbedaan Antara LUTA LIVRE dan BJJ - Part 3 (END)
Ada pula event lain yang masuk dalam sejarah panas Luta Livre/BJJ:
pertarungan antara Eugenio Tadeu (dia lagi) dan Renzo Gracie.
Pertarungan telah diselenggarakan oleh ayahnya, Robson Gracie (dia
lagi). Eugenio telah belajar dari pertandingan melawan Walid. Dia tidak
melakukan kesalahan yang sama dan kali ini menggunakan dengan baik dan
akurat teknik-teknik tendangan/pukulan.
Renzo berlawan dengan baik pada awal awalnya (takedown, taking the back) tetapi tenaganya mulai menipis (gased out). Eugenio ambil kesempatan untuk mendominasi lawannya sehingga Renzo berada dalam posisi bahaya yang mudah bisa Knock Out.
Tiba-tiba mati lampu! Di tengah kekacauan, perkelahian besar terjadi pula, bahkan sampai ada tembakan. Pertarungan akhirnya dihentikan dan ruang dievakuasi. Banyak yang kemudian mengatakan bahwa itu bukan suatu kebetulan. Bahwa Robson Gracie sendiri memadamkan lampu dengan sengaja supaya anaknya tidak kalah.
BJJ memang lebih banyak “mencetak kemenangan” melawan Luta Livre. Dan mungkin alasannya bukan karena BJJ lebih “kuat”, atau murid-muridnya lebih “jago”.
Kemungkinan besar alasannya harus dicari di “faktor-faktor sejarah” yakni :
1/ keberahian terhadap BJJ yang terjadi dengan lahirnya The Ultimate
Fighting Championship
2/ jumlah murid BJJ di dunia yang sangat besar
3/ penyelenggaraan pertandingan BJJ dan Grappling (Abu Dhabi Combat
Championship atau ADCC) yang akhirnya menyaksikan penemuan kembali
aliran-aliran gulat seperti Sambo, Silat, Systema, Wrestling, Freestyle
Wrestling, Greco Roman style, Submission Arts, Shootwrestling, Hybrid
Wrestling, Judo Kosen, Ju Jitsu/Judo Newaza, Shaolin Chin Na, Shuai Jiao
(gulat dari Cina), Oil Wrestling atau Turkish Wrestling (Yagli Gures),
Senegalese Wrestling (Laamb), Indian Wrestling (Kushti atau juga
Pehlawani), dll.
4/ dengan penemuan kembali teknik aliran gulat dan juga event-event seperti
Grappler Quest, Nogi BJJ, NAGA submission, FILA Grappling (dan juga MMA)
para BJJers (yang notabene jumlahnya lebih besar) melakukan cross
training sehingga Brazilian Jiu Jitsu – secara umum – selalu berkembang
dibanding aliran bela diri yang lain.
Hari ini, Jiu Jitsu dan Luta Livre terus bersaing, tetapi hanya diatas Ring atau Matras/Tatami, dan secara fairplay.
Bahkan banyak fighter dari Luta Livre belajar Brazilian Jiu Jitsu misalnya Hugo Duarte, Marco Ruas (Joe Moreira), Eugenio Tadeu (Joe Moreira), Milton Viera (BTT) , Alexandre Pequeno (BTT), Alexandre Carracerro (BTT), Renato Sobral (Gracie Barra Combat Team), Flavio Moura (Gracie Barra), Gustavo Machado (Gracie Barra Combat Team), Ivan “Batman” Jorge (Carlson Gracie), dll.
Kini, berbagai kompetisi yang mencampuran dua disiplin tersebut diorganisir baik di bawah aturan Gulat (FILA-Wrestling), Submission Grappling (Nogi) atau MMA.
Jika dulu Jiu Jitsu memiliki keunggulan teknis, kini Luta Livre mulai seimbang berkat perkembangan Brazilian/Gracie Jiu Jitsu.
Nama-nama para Black Belt (Faixa Preta) Luta Livre yang terkenal:
- Roberto Leitao (10° Dan - Ruas Vale Tudo)
- Denilson Maia (6° Dan)
- Hugo Duarte (5° Dan - Hugo Duarte Team)
- Eugenio Tadeu (5° Dan - Eugenio Tadeu Team)
- Jefferson Oliveira Pereira "JOP" (5º DAN - Equipe JOP)
- Marco Ruas (4° Dan - Ruas Vale Tudo USA)
- Alexandre Franca Nogueira "Pequeno" (3° Dan - Club Da Luta Faepol)
- Alexandre Ferreira "Cacareco" (2º DAN - CHUTE BOXE)
- Pedro Rizzo - 2º DAN (Ruas Vale Tudo - USA)
- Andreas Schmidt "Andyconda" (2° Dan - ELLO Germany)
- Flavio Santiago "Perroba" (2° Dan - FST France)
- Marcelo Brigadeiro
- Ebenezer F. Braga
dll...
Source :
http://archive.kaskus.co.id/thread/1430831/40
Renzo berlawan dengan baik pada awal awalnya (takedown, taking the back) tetapi tenaganya mulai menipis (gased out). Eugenio ambil kesempatan untuk mendominasi lawannya sehingga Renzo berada dalam posisi bahaya yang mudah bisa Knock Out.
Tiba-tiba mati lampu! Di tengah kekacauan, perkelahian besar terjadi pula, bahkan sampai ada tembakan. Pertarungan akhirnya dihentikan dan ruang dievakuasi. Banyak yang kemudian mengatakan bahwa itu bukan suatu kebetulan. Bahwa Robson Gracie sendiri memadamkan lampu dengan sengaja supaya anaknya tidak kalah.
BJJ memang lebih banyak “mencetak kemenangan” melawan Luta Livre. Dan mungkin alasannya bukan karena BJJ lebih “kuat”, atau murid-muridnya lebih “jago”.
Kemungkinan besar alasannya harus dicari di “faktor-faktor sejarah” yakni :
1/ keberahian terhadap BJJ yang terjadi dengan lahirnya The Ultimate
Fighting Championship
2/ jumlah murid BJJ di dunia yang sangat besar
3/ penyelenggaraan pertandingan BJJ dan Grappling (Abu Dhabi Combat
Championship atau ADCC) yang akhirnya menyaksikan penemuan kembali
aliran-aliran gulat seperti Sambo, Silat, Systema, Wrestling, Freestyle
Wrestling, Greco Roman style, Submission Arts, Shootwrestling, Hybrid
Wrestling, Judo Kosen, Ju Jitsu/Judo Newaza, Shaolin Chin Na, Shuai Jiao
(gulat dari Cina), Oil Wrestling atau Turkish Wrestling (Yagli Gures),
Senegalese Wrestling (Laamb), Indian Wrestling (Kushti atau juga
Pehlawani), dll.
4/ dengan penemuan kembali teknik aliran gulat dan juga event-event seperti
Grappler Quest, Nogi BJJ, NAGA submission, FILA Grappling (dan juga MMA)
para BJJers (yang notabene jumlahnya lebih besar) melakukan cross
training sehingga Brazilian Jiu Jitsu – secara umum – selalu berkembang
dibanding aliran bela diri yang lain.
Hari ini, Jiu Jitsu dan Luta Livre terus bersaing, tetapi hanya diatas Ring atau Matras/Tatami, dan secara fairplay.
Bahkan banyak fighter dari Luta Livre belajar Brazilian Jiu Jitsu misalnya Hugo Duarte, Marco Ruas (Joe Moreira), Eugenio Tadeu (Joe Moreira), Milton Viera (BTT) , Alexandre Pequeno (BTT), Alexandre Carracerro (BTT), Renato Sobral (Gracie Barra Combat Team), Flavio Moura (Gracie Barra), Gustavo Machado (Gracie Barra Combat Team), Ivan “Batman” Jorge (Carlson Gracie), dll.
Kini, berbagai kompetisi yang mencampuran dua disiplin tersebut diorganisir baik di bawah aturan Gulat (FILA-Wrestling), Submission Grappling (Nogi) atau MMA.
Jika dulu Jiu Jitsu memiliki keunggulan teknis, kini Luta Livre mulai seimbang berkat perkembangan Brazilian/Gracie Jiu Jitsu.
Nama-nama para Black Belt (Faixa Preta) Luta Livre yang terkenal:
- Roberto Leitao (10° Dan - Ruas Vale Tudo)
- Denilson Maia (6° Dan)
- Hugo Duarte (5° Dan - Hugo Duarte Team)
- Eugenio Tadeu (5° Dan - Eugenio Tadeu Team)
- Jefferson Oliveira Pereira "JOP" (5º DAN - Equipe JOP)
- Marco Ruas (4° Dan - Ruas Vale Tudo USA)
- Alexandre Franca Nogueira "Pequeno" (3° Dan - Club Da Luta Faepol)
- Alexandre Ferreira "Cacareco" (2º DAN - CHUTE BOXE)
- Pedro Rizzo - 2º DAN (Ruas Vale Tudo - USA)
- Andreas Schmidt "Andyconda" (2° Dan - ELLO Germany)
- Flavio Santiago "Perroba" (2° Dan - FST France)
- Marcelo Brigadeiro
- Ebenezer F. Braga
dll...
Source :
http://archive.kaskus.co.id/thread/1430831/40
Perbedaan Antara LUTA LIVRE dan BJJ - Part 2
Penjelasan Tentang Perbedaan Antara LUTA LIVRE dan BJJ - Part 2
Karakteristik dari Luta Livre adalah bantingan (takedown), kuncian
kaki (footlock), tumit (pergelangan kaki/heel hook), lutut (kneelock)
dan tindihan otot (seperti biceps slicer, calf crush, dll.).
Untuk info, original Luta Livre sama sekali tidak familiar dengan teknik-teknik ala Jiu Jitsu seperti Kimura (ude garami), Triangle (sankaku jime) maupun konsep Guard (closed guard, pull guard, half guard).
Hanya belakangan Luta Livre "moderen" mulai menambah teknik-teknik tersebut (teknik bjj) dalam teknik mereka.
Tentu saja Luta Livre telah menjadi kendala bagi Jiu Jitsu (yang telah didirikan pada waktu yang hampir sama) dalam pertemuan Vale Tudo, sehingga persaingan besar antara keduanya (lihat tahun 1990an setelah Gracie Jiu Jitsu dan khususnya UFC masuk di Dunia Barat/Amerika Serikat).
Jadi pada tahun 1980an di Brazil, Jiu Jitsu dari keluarga Gracie meraih banyak kemenangan dalam pertandingan judo, sambo, gulat, jiu jitsu dan khususnya dalam pertandingan Vale Tudo. Dan atlit dari kalangan Gracie yang waktu itu menonjol adalah Rickson Gracie.
Para fighter dari Muay Thai akhirnya bergabung dengan para fighter dari Luta Livre untuk bisa bertahan atas perkembangan/penguatan aliran Jiu Jitsu keluarga Gracie.
Timbul-lah pertandingan Vale Tudo yang sangat terkenal juga sangat kejam.
Sejarah « panas » antara Luta Livre dan Jiu Jitsu dimulai pada tahun 1980 di Teresopolis, sebuah kota kecil dipinggiran Rio de Janeiro, dengan perkelahian antara Charles Gracie dan seorang Mario Dumo, yang adalah saudara dari Flavio Molina (guru Taekwondo dan Muay Thai). Pertikaian ini terus berlanjut di kota Rio dan Charles pergi mengeluh kepada Rolls Gracie dengan haapan masalah ini akan diatasi. Akirnya, Rolls datang ke Akademi Flavio Molina (kedatangannya bisa dikatakan sebuah « razzia ») untuk minta konfrontasi antara Charles dan Mario itu. Tapi pertarungan tersebut tak terjadi karena tiba-tiba Akdemi Flavio Molina menjadi medan tempur massal alias tawuran, yang berakhir hanya dengan kedatangan polisi.
Akar masalahnya telah terjadi antara orang-orang dari Muay Thai dan orang-orang Jiu Jitsu, namun karena orang Luta Livre sangat dekat dengan grup Muay Thai ini (banyak diantara mereka berlatih dua disiplin beladiri, seperti Marco Ruas, Luiz Alves, dll.), maka mereka akirnya terlibat juga.
Sejak saat itu, konfrontasi antar Muay Thai dan Jiu Jitsu terus meningkatkan. Para fighter dari team Gracie memang terkenal karena sering menantang disiplin bela diri lain, tapi baru pertama kali salah satu dari mereka bisa bertahan benar-benar.
Akhirnya, Flavio Molina mulai latihan gulat/groundfighting dan pada satu waktu ia pergi ke tempatnya Rickson Gracie, yang sudah menjadi pemimpin fighters dari Jiu Jitsu.
Namun Rickson beritahukan bahwa pihak Jiu Jitsu akan mengadakan Vale Tudo, dan Flavio harus menghadapi muridnya yang terbaik dulu sebelum melawan Rickson sendiri. Murid yang dipilih adalah Marcelo Behring, sabuk coklat pada saat itu.
Di pihak Muay Thai, dua petarung muda dari Luta Livre diminta untuk membela kehormatan Flavio Molina, yaitu Eugenio Tadeu dan Marco Ruas. Mereka menantang pihak Jiu Jitsu yaitu Renan Pitangui (anak buah Marcelo Behring) dan Fernando Pinduka (anak buah Carlson Gracie).
Pertemuan berlangsung pada tahun 1983 di sebuah lokasi bernama Maracanazinho dan merupakan kekalahan besar pertama dari Jiu-Jitsu. Meski Flavio Molina kalah lawan Marcelo Behring karena kurang terlatih dan kurang siap untuk pertarungan tipe Vale Tudo itu, pihak Luta Livre yang dipimpin oleh Eugenio Tadeu dan Marco Ruas telah membuktikan keseriusan mereka dan kekuatan sistem mereka : Eugenio Tadeu telah menghajar habis-habisan sih anak muda Pitangui Renan (sampai wajahnya hancur), sedangkan Marco Ruas (anak baru yang belum terkenal) bisa bertahan dan bertarung dengan Pinduka, yang dikenal sebagai hard striker dan « pecinta pertarungan yang keras/kasar/kejam ». Pertarungan antara kedua heavy weight ini berlanjut sampai ronde akhir dan dinyatakan seri (draw).
Tetapi perkelahian tidak berhenti di sini, bahkan berlanjut dikemudian hari, baik di jalan maupun di tempat latihan, dan tidak hanya melibatkan satu orang lawan satu orang, tetapi tawuran. Rickson Gracie dan Hugo Duarte, para leader dari dua disiplin itu, berantam dua kali di pantai dan tempat parkir. Pertarungan tersebut dimenangkan oleh Rickson.
Pada tahun 1991, telah terjadi konfrontasi besar yang ke-dua, di lokasi Tennis Club Grajau, dan kali ini Jiu-Jitsu, yang meraih kemenangan besar atas Luta Livre. Yang memulai pertarungan ini adalah Walid Ismail (anak buah Carlson Gracie) : melalui media/pers, ia menantang para Lutadores dengan mengatakan bahwa Jiu Jitsu adalah yang terbaik dari semua disiplin beladiri dan tidak bisa dikalahkan.
Murilo Bustamante, Marcelo Behring dan Carlson Gracie bertemu dengan Marco Ruas, Denilson Maia, Hugo Duarte dan Eugenio Tadeu agar memutuskan pengatura pertarungan antar dua kubu ini di dalam Academy. Lima petarung dari Jiu Jitsu telah ditunujuk : Walid Ismail, Amaury Bitteti, Fabio Gurgel, Marcelo Behring dan Murilo Bustamante. Tetapi akhirnya Amaury mengundurkan dirinya karena alasan kesehatan sedangkan Marcelo karena alasan cidera. Marco Ruas juga mengundurkan diri.
Akhirnya Murilo, Fabio dan Walid berlatih bersama-sama selama empat bulan di bawah naungan Carlson, dan dibantu oleh Ricardo Liborio serta Ze Mario dan juga para Jiu Jitsuka dari tim lain-lain. Ini merupakan satu-satu kalinya dimana semua fraksi Jiu Jitsu bersatu. Lain dengan kubu Luta Livre yang menunjukkan « ke-tidak-akurnya » dan tidak teralu minat untuk acara ini. Hanya sang lutador Hugo Duarte yang serius dalam persiapan fight tersebut, tetapi pada saat terakhir pihak Jiu Jitsu tidak menemukan musuh yang patut menjadi lawannya.
Acaranya berlangsung di Grajau, sebuah wilayah Luta Livre dan Muay Thai, dan diselenggarakan oleh Robson Gracie (Anak Carlos Gracie dan Ayah dari Renzo dan Ryan Gracie). Namun, lucunya kehadiran orang (penonton/suporter) Luta Livre hampir tidak ada. Melainkan, lokasinya itu dipenuhi sampai 95% oleh orang Jiu Jitsu. Mereka pada me-circle tempat tanding (ring) dan memukul para fighter Luta Livre saat mereka masuk ke arena (dari tempat Locker-room sampai di Ring). Wasit pun mengenakan T-shirt dari Federasi Jiu Jitsu.
Selama pertarungan tidak ada aturan dan semuanya diizinkan. Pertarungan ini yang dianggap paling kejam dalam sejarah Vale Tudo.
Eugenio Tadeu sangat terkenal karena sebelumnya tak pernah kalahkan sedangkan Walid dikenal sebagai orang yang suka berkelahi.
Ronde pertama sangat bagus buat Eugenio yang standup fightnya jauh lebih baik dari Wallid. Ia pun berusaha untuk melakukan Guillotine dan Kimura. Tetapi Wallid berhasil untuk melakukan escapenya dengan headbutt dan elbow strikes.
Ronde kedua Eugenio menjaga good standup fightnya dengan pukulan dan tendangannya. Tapi Wallid beberapa kali telah membanting/melakukan takedown Eugenio dan saat di ground, ia melakukan headbutt.
Pada suatu saat, mereka jatuh dari atas ring dan pertarungannya tetap dilanjutkan meski intervensi keamanan (security guard). Nasib buruk buat Eugenio: dia menerima banyak tendangan dari para pendukung Jiu Jitsu yang hadir di ringside. Eugenio tidak dapat kembali ke atas Ring, dihitung dan akhirnya pemenangnya adalah Wallid.
Pada malam itu, Fabio Gurgel dan Murillo Bustamente telah menang juga atas lawannya masing-masing (Marcelo Mendes & Denilson). Dan event ini telah disiarkan di teve nasional brasil sehingga popularitas Jiu Jitsu tambah meningkat.
Source :http://archive.kaskus.co.id/thread/1430831/30
Untuk info, original Luta Livre sama sekali tidak familiar dengan teknik-teknik ala Jiu Jitsu seperti Kimura (ude garami), Triangle (sankaku jime) maupun konsep Guard (closed guard, pull guard, half guard).
Hanya belakangan Luta Livre "moderen" mulai menambah teknik-teknik tersebut (teknik bjj) dalam teknik mereka.
Tentu saja Luta Livre telah menjadi kendala bagi Jiu Jitsu (yang telah didirikan pada waktu yang hampir sama) dalam pertemuan Vale Tudo, sehingga persaingan besar antara keduanya (lihat tahun 1990an setelah Gracie Jiu Jitsu dan khususnya UFC masuk di Dunia Barat/Amerika Serikat).
Jadi pada tahun 1980an di Brazil, Jiu Jitsu dari keluarga Gracie meraih banyak kemenangan dalam pertandingan judo, sambo, gulat, jiu jitsu dan khususnya dalam pertandingan Vale Tudo. Dan atlit dari kalangan Gracie yang waktu itu menonjol adalah Rickson Gracie.
Para fighter dari Muay Thai akhirnya bergabung dengan para fighter dari Luta Livre untuk bisa bertahan atas perkembangan/penguatan aliran Jiu Jitsu keluarga Gracie.
Timbul-lah pertandingan Vale Tudo yang sangat terkenal juga sangat kejam.
Sejarah « panas » antara Luta Livre dan Jiu Jitsu dimulai pada tahun 1980 di Teresopolis, sebuah kota kecil dipinggiran Rio de Janeiro, dengan perkelahian antara Charles Gracie dan seorang Mario Dumo, yang adalah saudara dari Flavio Molina (guru Taekwondo dan Muay Thai). Pertikaian ini terus berlanjut di kota Rio dan Charles pergi mengeluh kepada Rolls Gracie dengan haapan masalah ini akan diatasi. Akirnya, Rolls datang ke Akademi Flavio Molina (kedatangannya bisa dikatakan sebuah « razzia ») untuk minta konfrontasi antara Charles dan Mario itu. Tapi pertarungan tersebut tak terjadi karena tiba-tiba Akdemi Flavio Molina menjadi medan tempur massal alias tawuran, yang berakhir hanya dengan kedatangan polisi.
Akar masalahnya telah terjadi antara orang-orang dari Muay Thai dan orang-orang Jiu Jitsu, namun karena orang Luta Livre sangat dekat dengan grup Muay Thai ini (banyak diantara mereka berlatih dua disiplin beladiri, seperti Marco Ruas, Luiz Alves, dll.), maka mereka akirnya terlibat juga.
Sejak saat itu, konfrontasi antar Muay Thai dan Jiu Jitsu terus meningkatkan. Para fighter dari team Gracie memang terkenal karena sering menantang disiplin bela diri lain, tapi baru pertama kali salah satu dari mereka bisa bertahan benar-benar.
Akhirnya, Flavio Molina mulai latihan gulat/groundfighting dan pada satu waktu ia pergi ke tempatnya Rickson Gracie, yang sudah menjadi pemimpin fighters dari Jiu Jitsu.
Namun Rickson beritahukan bahwa pihak Jiu Jitsu akan mengadakan Vale Tudo, dan Flavio harus menghadapi muridnya yang terbaik dulu sebelum melawan Rickson sendiri. Murid yang dipilih adalah Marcelo Behring, sabuk coklat pada saat itu.
Di pihak Muay Thai, dua petarung muda dari Luta Livre diminta untuk membela kehormatan Flavio Molina, yaitu Eugenio Tadeu dan Marco Ruas. Mereka menantang pihak Jiu Jitsu yaitu Renan Pitangui (anak buah Marcelo Behring) dan Fernando Pinduka (anak buah Carlson Gracie).
Pertemuan berlangsung pada tahun 1983 di sebuah lokasi bernama Maracanazinho dan merupakan kekalahan besar pertama dari Jiu-Jitsu. Meski Flavio Molina kalah lawan Marcelo Behring karena kurang terlatih dan kurang siap untuk pertarungan tipe Vale Tudo itu, pihak Luta Livre yang dipimpin oleh Eugenio Tadeu dan Marco Ruas telah membuktikan keseriusan mereka dan kekuatan sistem mereka : Eugenio Tadeu telah menghajar habis-habisan sih anak muda Pitangui Renan (sampai wajahnya hancur), sedangkan Marco Ruas (anak baru yang belum terkenal) bisa bertahan dan bertarung dengan Pinduka, yang dikenal sebagai hard striker dan « pecinta pertarungan yang keras/kasar/kejam ». Pertarungan antara kedua heavy weight ini berlanjut sampai ronde akhir dan dinyatakan seri (draw).
Tetapi perkelahian tidak berhenti di sini, bahkan berlanjut dikemudian hari, baik di jalan maupun di tempat latihan, dan tidak hanya melibatkan satu orang lawan satu orang, tetapi tawuran. Rickson Gracie dan Hugo Duarte, para leader dari dua disiplin itu, berantam dua kali di pantai dan tempat parkir. Pertarungan tersebut dimenangkan oleh Rickson.
Pada tahun 1991, telah terjadi konfrontasi besar yang ke-dua, di lokasi Tennis Club Grajau, dan kali ini Jiu-Jitsu, yang meraih kemenangan besar atas Luta Livre. Yang memulai pertarungan ini adalah Walid Ismail (anak buah Carlson Gracie) : melalui media/pers, ia menantang para Lutadores dengan mengatakan bahwa Jiu Jitsu adalah yang terbaik dari semua disiplin beladiri dan tidak bisa dikalahkan.
Murilo Bustamante, Marcelo Behring dan Carlson Gracie bertemu dengan Marco Ruas, Denilson Maia, Hugo Duarte dan Eugenio Tadeu agar memutuskan pengatura pertarungan antar dua kubu ini di dalam Academy. Lima petarung dari Jiu Jitsu telah ditunujuk : Walid Ismail, Amaury Bitteti, Fabio Gurgel, Marcelo Behring dan Murilo Bustamante. Tetapi akhirnya Amaury mengundurkan dirinya karena alasan kesehatan sedangkan Marcelo karena alasan cidera. Marco Ruas juga mengundurkan diri.
Akhirnya Murilo, Fabio dan Walid berlatih bersama-sama selama empat bulan di bawah naungan Carlson, dan dibantu oleh Ricardo Liborio serta Ze Mario dan juga para Jiu Jitsuka dari tim lain-lain. Ini merupakan satu-satu kalinya dimana semua fraksi Jiu Jitsu bersatu. Lain dengan kubu Luta Livre yang menunjukkan « ke-tidak-akurnya » dan tidak teralu minat untuk acara ini. Hanya sang lutador Hugo Duarte yang serius dalam persiapan fight tersebut, tetapi pada saat terakhir pihak Jiu Jitsu tidak menemukan musuh yang patut menjadi lawannya.
Acaranya berlangsung di Grajau, sebuah wilayah Luta Livre dan Muay Thai, dan diselenggarakan oleh Robson Gracie (Anak Carlos Gracie dan Ayah dari Renzo dan Ryan Gracie). Namun, lucunya kehadiran orang (penonton/suporter) Luta Livre hampir tidak ada. Melainkan, lokasinya itu dipenuhi sampai 95% oleh orang Jiu Jitsu. Mereka pada me-circle tempat tanding (ring) dan memukul para fighter Luta Livre saat mereka masuk ke arena (dari tempat Locker-room sampai di Ring). Wasit pun mengenakan T-shirt dari Federasi Jiu Jitsu.
Selama pertarungan tidak ada aturan dan semuanya diizinkan. Pertarungan ini yang dianggap paling kejam dalam sejarah Vale Tudo.
Eugenio Tadeu sangat terkenal karena sebelumnya tak pernah kalahkan sedangkan Walid dikenal sebagai orang yang suka berkelahi.
Ronde pertama sangat bagus buat Eugenio yang standup fightnya jauh lebih baik dari Wallid. Ia pun berusaha untuk melakukan Guillotine dan Kimura. Tetapi Wallid berhasil untuk melakukan escapenya dengan headbutt dan elbow strikes.
Ronde kedua Eugenio menjaga good standup fightnya dengan pukulan dan tendangannya. Tapi Wallid beberapa kali telah membanting/melakukan takedown Eugenio dan saat di ground, ia melakukan headbutt.
Pada suatu saat, mereka jatuh dari atas ring dan pertarungannya tetap dilanjutkan meski intervensi keamanan (security guard). Nasib buruk buat Eugenio: dia menerima banyak tendangan dari para pendukung Jiu Jitsu yang hadir di ringside. Eugenio tidak dapat kembali ke atas Ring, dihitung dan akhirnya pemenangnya adalah Wallid.
Pada malam itu, Fabio Gurgel dan Murillo Bustamente telah menang juga atas lawannya masing-masing (Marcelo Mendes & Denilson). Dan event ini telah disiarkan di teve nasional brasil sehingga popularitas Jiu Jitsu tambah meningkat.
Source :http://archive.kaskus.co.id/thread/1430831/30
Perbedaan Antara LUTA LIVRE dan BJJ - Part 1
Penjelasan Tentang Perbedaan Antara LUTA LIVRE dan BJJ - Part 1
Halo semua,
Saya ingin memberi penjelasan tentang perbedaan antara Luta Livre dan Brazilian Jiu Jitsu yang tidak hanya dalam perbedaan "kostum" (mempakai Gi atau tidak).
Tapi sebelumnya, mari kita mendefinisikan kata2 yang penting:
- Luta = Wrestle/Wrestling (gulat)
- Luta Livre = Free Wrestling (gulat bebas)
- Jiu Jitsu = Judo/Ju Jutsu Jepang yang dibawa oleh Mitsuyo Maeda a.k.a Conde Koma di Brazil = Gracie Jiu Jitsu = Brazilian Jiu Jitsu
- Vale Tudo = "semua diperbolehkan" = pertandingan pertarungan bebas tanpa sarung tangan yg populer dejak tahun 1960 = free fight
--------------------------
Luta Livre adalah satu fighting sistem moderen (pertengahan abad ke-XX) yang didirikan oleh Euclydes Hatem a.k.a Tatu di Rio de Janeiro dan berasal dari campuran teknik gulat atau "Catch Wrestling" (abad ke-XVIII) dan teknik gulat bebas atau "Freestyle Wrestling" (tahun 1904 sbg disiplin untuk Olympic Games).
FYI, Freestyle Wrestling beda dengan Greco Roman Wrestling (tahun 1896). Yang jelas, jenis/aliran gulat tersebut berasal dari "Gulat" yang merupakan martial art yang paling tua (3000 years Before Christ Era).
Karakteristik dari Luta Livre adalah kuncian kaki (footlock), tumit (pergelangan kaki/heel hook), lutut (kneelock) dan tindihan otot (seperti biceps slicer, calf crush, dll.)
Tentu saja Luta Livre telah menjadi kendala bagi Jiu Jitsu (yang telah didirikan pada waktu yang hampir sama) dalam pertemuan Vale Tudo, sehingga persaingan besar antara keduanya (lihat tahun 1990an setelah Gracie Jiu Jitsu dan khususnya UFC masuk di Dunia Barat/Amerika Serikat).
Jadi pada tahun 1980an di Brazil, Jiu Jitsu dari keluarga Gracie meraih banyak kemenangan dalam pertandingan judo, sambo, gulat, jiu jitsu dan khususnya dalam pertandingan Vale Tudo. Dan atlit dari kalangan Gracie yang waktu itu menonjol adalah Rickson Gracie.
Para fighter dari Muay Thai akhirnya bergabung dengan para fighter dari Luta Livre untuk bisa bertahan atas perkembangan/penguatan aliran Jiu Jitsu keluarga Gracie.
Timbul-lah pertandingan Vale Tudo yang sangat terkenal juga sangat kejam (bagi orang barat - mereka yang hanya tahu Boxing, kali ini lihat pertandingan bebas tanpa sarung tangan!! Tidak perlu diingatkan bahwa pertarungan Vale Tudo di Brazil zaman tersebut sering berakhir dengan wajah petarung berdarah habis2an, babak belur, dll).
--------------------------
Nama para lutadores yang terkenal :
Roberto Leitao (Black Belt - Dan 10; guru yang paling tinggi di Luta Livre)
Hugo Duarte, Eugenio Tadeu, The Pedro, Johil de Oliveira, Ebenezer F. Braga, Marco Ruas, Denilson Maia, Alexandre Franca "Pequeno" Nogueira, Marcelo Brigadeiro, Andreas "Andyconda" Schmidt...
Salam,
Shamo
PS: Valdemar Santana memang adalah salah satu murid Helio Gracie. Dia menjadi kuat sekali (badannya juga besar, atletis) sehingga dia pikir HElio Gracie sudah "has been" (yah, bagi saya itu namanya penghianat). Dan Santana ini dibilang mulai dekat dengan aliran beladiri lain (yang iri dengan kesuksesan Helio Gracie). Oleh karena itu dia menantang gurunya sendiri pada tahun 1955 dalam acara Vale Tudo (Santana waktu itu berumur 23 tahun sedangkan Helio Gracie 42 tahun).
Tetapi, Valdemar Santana tidak pernah mengklaim dirinya sebagai orang dari Luta Livre! Dan sebaliknya, Luta Livre tidak pernah mengklaim Valdemar Santana sebagai orang mereka.
Dia tetap orang Jiu Jitsu...bahkan pada pertandingan Vale Tudo tersebut mereka berdua memakai Gi masing-masing.
Source :
http://archive.kaskus.co.id/thread/1430831/30
Saya ingin memberi penjelasan tentang perbedaan antara Luta Livre dan Brazilian Jiu Jitsu yang tidak hanya dalam perbedaan "kostum" (mempakai Gi atau tidak).
Tapi sebelumnya, mari kita mendefinisikan kata2 yang penting:
- Luta = Wrestle/Wrestling (gulat)
- Luta Livre = Free Wrestling (gulat bebas)
- Jiu Jitsu = Judo/Ju Jutsu Jepang yang dibawa oleh Mitsuyo Maeda a.k.a Conde Koma di Brazil = Gracie Jiu Jitsu = Brazilian Jiu Jitsu
- Vale Tudo = "semua diperbolehkan" = pertandingan pertarungan bebas tanpa sarung tangan yg populer dejak tahun 1960 = free fight
--------------------------
Luta Livre adalah satu fighting sistem moderen (pertengahan abad ke-XX) yang didirikan oleh Euclydes Hatem a.k.a Tatu di Rio de Janeiro dan berasal dari campuran teknik gulat atau "Catch Wrestling" (abad ke-XVIII) dan teknik gulat bebas atau "Freestyle Wrestling" (tahun 1904 sbg disiplin untuk Olympic Games).
FYI, Freestyle Wrestling beda dengan Greco Roman Wrestling (tahun 1896). Yang jelas, jenis/aliran gulat tersebut berasal dari "Gulat" yang merupakan martial art yang paling tua (3000 years Before Christ Era).
Karakteristik dari Luta Livre adalah kuncian kaki (footlock), tumit (pergelangan kaki/heel hook), lutut (kneelock) dan tindihan otot (seperti biceps slicer, calf crush, dll.)
Tentu saja Luta Livre telah menjadi kendala bagi Jiu Jitsu (yang telah didirikan pada waktu yang hampir sama) dalam pertemuan Vale Tudo, sehingga persaingan besar antara keduanya (lihat tahun 1990an setelah Gracie Jiu Jitsu dan khususnya UFC masuk di Dunia Barat/Amerika Serikat).
Jadi pada tahun 1980an di Brazil, Jiu Jitsu dari keluarga Gracie meraih banyak kemenangan dalam pertandingan judo, sambo, gulat, jiu jitsu dan khususnya dalam pertandingan Vale Tudo. Dan atlit dari kalangan Gracie yang waktu itu menonjol adalah Rickson Gracie.
Para fighter dari Muay Thai akhirnya bergabung dengan para fighter dari Luta Livre untuk bisa bertahan atas perkembangan/penguatan aliran Jiu Jitsu keluarga Gracie.
Timbul-lah pertandingan Vale Tudo yang sangat terkenal juga sangat kejam (bagi orang barat - mereka yang hanya tahu Boxing, kali ini lihat pertandingan bebas tanpa sarung tangan!! Tidak perlu diingatkan bahwa pertarungan Vale Tudo di Brazil zaman tersebut sering berakhir dengan wajah petarung berdarah habis2an, babak belur, dll).
--------------------------
Nama para lutadores yang terkenal :
Roberto Leitao (Black Belt - Dan 10; guru yang paling tinggi di Luta Livre)
Hugo Duarte, Eugenio Tadeu, The Pedro, Johil de Oliveira, Ebenezer F. Braga, Marco Ruas, Denilson Maia, Alexandre Franca "Pequeno" Nogueira, Marcelo Brigadeiro, Andreas "Andyconda" Schmidt...
Salam,
Shamo
PS: Valdemar Santana memang adalah salah satu murid Helio Gracie. Dia menjadi kuat sekali (badannya juga besar, atletis) sehingga dia pikir HElio Gracie sudah "has been" (yah, bagi saya itu namanya penghianat). Dan Santana ini dibilang mulai dekat dengan aliran beladiri lain (yang iri dengan kesuksesan Helio Gracie). Oleh karena itu dia menantang gurunya sendiri pada tahun 1955 dalam acara Vale Tudo (Santana waktu itu berumur 23 tahun sedangkan Helio Gracie 42 tahun).
Tetapi, Valdemar Santana tidak pernah mengklaim dirinya sebagai orang dari Luta Livre! Dan sebaliknya, Luta Livre tidak pernah mengklaim Valdemar Santana sebagai orang mereka.
Dia tetap orang Jiu Jitsu...bahkan pada pertandingan Vale Tudo tersebut mereka berdua memakai Gi masing-masing.
Source :
http://archive.kaskus.co.id/thread/1430831/30
Belajar keamanan dan keselamatan dari beladiri MMA – UFC, Ultimate Fighting Championship
Jika anda menyukai pertarungan bebas, baik itu bersifat groundfighting (bertarung dibawah seperti gulat, judo, jiujitsu) dan stand up fighting (pertarungan
berdiri seperti karate, tinju, taekwondo, kickboxing) dengan berbagai
teknik pukulan, tendangan, kempitan, memiting maupun lainnya, maka
menonton pertarungan beladiri campuran (Mix Martial Art / MMA) di UFC (Ultimate Fighting Championship)
bisa jadi merupakan referensi tepat. Ketika pertama kali UFC
dipertandingkan di tahun 1993 masih terlihat pertarungan memperlihatkan
gaya teknik khas pertarungan dari masing-masing jenis beladiri, dimana
pertarungan yang bersifat ke arah ground fighting + grappling terlihat unggul.
Kini setelah berevolusi lebih dari 20 tahun penyelenggaraan MMA di
UFC, terlihat bahwa kunci sukses petarung adalah terletak bagaimana bisa
memainkan teknik melumpuhkan lawan secara cepat setiap ada kesempatan,
entah itu melalui stand-up atau ground fighting.
Artinya, petarung akan melakukan berbagai upaya terutama spesialisasinya
untuk memaksa lawan kalah melalui teknik beladiri yang dikuasai baik.
Pertarungan MMA tekesan brutal dan sadis, dengan berbagai hasil akhir
pertandingan seperti petarung yang berdarah-darah, knocked out karena terkena pukulan, tendangan , patah tulang atau terkena berbagai teknik memiting (grappling).
Tapi tahukah anda meskipun tampak brutal, dimana segala teknik
menendang, memukul, memiting diperbolehkan, bahwa setelah lebih dari 20
tahun penyelenggaraan belum pernah ada kematian dari pertarungan di UFC?
Ya. Jika pernah menyaksikan pertarungan
tersebut, dimana di Indonesia pernah dilarang tayang TV karena dianggap
menyajikan kekerasan dan kesadisan justru pertarungan MMA di UFC adalah
paling aman dibandingkan pertarungan olahraga popular seperti tinju.
Mengapa tingkat resiko bahaya MMA bisa lebih rendah dibandingkan Tinju?
Perlu diketahui pada olahraga tinju resmi antara tahun 1986 sampai
dengan 2006, sudah terjadi 70 kematian atlit tinju. Jadi secara
rata-rata sekitar 3-4 kematian per tahun , Diperkirakan, total kematian
sejak penyelenggaraan pertandingan tinju resmi melebihi 1000 kematian
atlet !
Meskipun
terlihat tanpa aturan, sebenarnya pertarungan MMA tidaklah benar-benar
“no rule”. Setiap petarung dilarang memukul bagian leher, menggigit,
mencolok mata, menendang atau memukul alat vital serta aturan lainnya
yang ditetapkan ketat oleh komisi resmi penyelenggara petarungan
tersebut. Disinilah letak dan peran aturan jelas dan kelayakan atlet
beladiri MMA ditetapkan. Ada berbagai studi mengenai MMA khususnya UFC
mengapa lebih aman dibandingkan olahraga Tinju.
Sebelum dan sesudah bertanding, para atlet MMA menjalani serangkaian
tes kesehatan, kebugaran dan kelayakan fisik yang sangat ketat sehingga
sering terjadi petarung tidak bisa melanjutkan petarungan berikut (Walk out)
karena dinyatakan tidak layak bertanding oleh dokter khusus dari Komisi
Atletik bersangkutan. Bila menolak mengikuti tes, maka sanksi dan denda
diterapkan khusus, termasuk pencabutan izin bertanding.
MMA di UFC membolehkan menggunakan berbagai teknik seperti memukul, menendang, membanting, memiting atau dengan submission. Namun MMA tidak memiliki standing eight count seperti dalam olahraga tinju dimana bila terjadi knockdown, wasit MMA UFC berhak untuk menghentikan pertandingan. Setiap petarung MMA boleh melakukan tap out, jika merasa keadaan sudah membahayakan dirinya atau dalam posisi terkunci entah itu via armbar, rear naked choke atau leglock.
Wasit MMA pun berhak menghentikan pertandingan ketika petarung dirasa
sudah tidak mampu lepas dari kuncian atau bertahan terhadap
pukulan/tendangan lawannya. Aturan standing eight count di
dalam dunia tinju memberikan peluang bagi atlet untuk mengalami cidera
lebih parah karena sudah mengalami cidera akibat pukulan yang mengarah
wajah atau kepalanya. Hal ini yang menjadi penyebab utama gegar otak
atau bahkan kematian pada olahraga tinju, karena cedera yang
berulang-ulang didera.
MMA seperti di UFC juga menyebabkan berbagai cedera, namun berbeda
dengan olahraga tinju. Persentase terjadinya trauma otak lebih kecil,
namun petarung umumnya mengalami cidera seperti: patah tulang dan cedera
otot. Pertarungan antar Chris Weidman dan Anderson Silva, tahun 2013
adalah contoh pertarungan yang berakhir tragis, dimana Anderson Silva
yang menendang keras kaki Chris Weidman terpaksa mengalami cidera parah
patah kaki di tulang kering.
So, apapun jenis olahraga pertarungan, tampaknya aturan yang jelas,
kesiapan, kelayakan dan kesigapan dari berbagai pihak merupakan kunci
keamanan dan keselamatan bagi atlet. Meskipun resiko cidera tidak bisa
dihindari. Sebagaimana layaknya di dunia bisnis yang memiliki resiko
tinggi keselamatan, kesehatan dan lingkungan kerja. Jika aturan sebelum
dan saat menjalankan bisnis tidak diterapkan pada secara ketat pada
aspek-aspek terkait, maka tentu hasilnya pasti tidak sesuai harapan.
Sumber :
UFC. Rules and Regulation.http://www.ufc.com/discover/sport/rules-and-regulations
Wikipedia
Sherdog.com
Askmen. Which more dangerous between Boxing and MMA. http://www.askmen.com/sports/fanatic_300/316b_which-is-more-dangerous-boxing-or-mma.html,
LUTA LIVRE
Luta livre adalah beladiri yang berasal dari Negara Brazil. Beladiri ini diciptakan dari perpaduan antara catch wrestling dengan Judo. Luta Livre diciptakan oleh Euclydes Hatem. Arti dari Luta Livre yang berasal dari bahasa portugis adalah ‘tarung bebas’ atau bisa juga disebut gulat bebas. Dalam Luta Livre diajarkan juga serangan dengan menggunakan tangan, kaki, siku maupun lutut. Arti dari “Luta” dalam bahasa Portugis adalah ‘berkelahi” dan Livre artinya bebas. Ada dua jenis dalam Luta Livre yaitu “Luta Livre Esportiva dan Luta Livre Vale Tudo. Kedua jenis ini tidak menggunakan Gi ( Seragam yang dikenakan seperti dalam Judo/Aikido/Karate). Luta Livre sejatinya adalah “No Gi Submission Grappling”.
Pertandingan yang bersifat kompetisi dikenal sebagai Luta Livre
Esportiva. Dalam Luta Livre Esportiva Competition, semua teknik grappling diperbolehkan.
Teknik yang dibolehkan adalah seperti armlock, leglock, choke atau point
(takedown, posisi dominan). Untuk teknik keras seperti pukulan, tendangan dan
sejenisnya tidak dibolehkan sehingga lebih cocok sebagai olahraga ketimbang
self-defense atau fighting.
Pendiri Luta Livre yaitu Euclydes“Tatu”Hatem
aslinya adalah praktisi catch wrestling. Euclyde mengajar catch wrestling di Rio De Janeiro tahun 1927
ketika bereksperimen dengan beberapa teknik inovasinya. Tatu mengajukan tantangan
ke praktisi Brazilian Jiujitsu dan puncaknya mengalahkan George Gracie. Gaya
bertarungnya adalah bertarung tanpa mengenakan Gi. Beliau memperoleh
popularitasnya ketika mengalahkan George Gracie pada tahun 1940 dan salah satu
muridnya “Euclides Pereira mengalahkan Carlson Gracie di tahun 1968. System pertarungannya
focus pada ground fighting dan submission. Ground Fighting yang dimaksud disini
adalah dibolehkannya penggunaan teknik leglock, yang pada saat itu dilarang
dalam Brazilian Jiu Jitsu. Luta Livre menjadi sangat terkenal nomor 2 setelah
Brazilian jiu jitsu. Perkembangan Luta Livre sangat dipengaruhi oleh dua orang
Bapak dan anak yaitu Fausto dan Carlos Bruno Cilla. Bruno Cilla adalah murid dari
Tatu yang bertanggung jawab dalam banyak menghasilkan guru Luta Livre.
Pada tahun 1970, Luta Livre juga dipengaruhi oleh Roberto Leitao seorang praktisi judo dan wrestling. Roberto Leitao adalah seorang Professor Teknik Mesin di sebuah Universitas yang banyak mencurahkan waktu bertahun-tahun untuk wrestling dan Judo. meskipun beliau secara fisik memiliki postur yang kecil ketimbang athlete dayung, Leitao menang karena memanfaatkan teknik, seperti halnya Royce Gracie lakukan di UFC 1 dengan BJJ nya. Leitao juga memilih teknik yang inovatif yang terungkap dalam interview , bahwa beliau selalu membawa buku catatan di sebelah tempat tidurnya dan mencatat apa yang ada dalam pikiran atau mimpinya tentang teknik dan mempraktekannya keesok harinya. Hal ini menjadikan Luta Livre menjadi sebuah beladiri yang unik.
Grading System /
Pada tahun 1970, Luta Livre juga dipengaruhi oleh Roberto Leitao seorang praktisi judo dan wrestling. Roberto Leitao adalah seorang Professor Teknik Mesin di sebuah Universitas yang banyak mencurahkan waktu bertahun-tahun untuk wrestling dan Judo. meskipun beliau secara fisik memiliki postur yang kecil ketimbang athlete dayung, Leitao menang karena memanfaatkan teknik, seperti halnya Royce Gracie lakukan di UFC 1 dengan BJJ nya. Leitao juga memilih teknik yang inovatif yang terungkap dalam interview , bahwa beliau selalu membawa buku catatan di sebelah tempat tidurnya dan mencatat apa yang ada dalam pikiran atau mimpinya tentang teknik dan mempraktekannya keesok harinya. Hal ini menjadikan Luta Livre menjadi sebuah beladiri yang unik.
Grading System /
grading system yang diterapkan dalam Luta Livre ada
3 yaitu :
- Beginner / Pemula : Putih, Kuning dan Oranye
- Intermediate / Menengah : Biru
- Advance / Lanjutan : Ungu, Coklat dan Hitam
Luta Livre dan Brazilian jiu-jitsu
Luta Livre
di awal awal kemunculannya lebih sebagai seni beladiri untuk orang miskin
yang tidak dapat membeli gi (Seragam beladiri seperti Judo/Aikido). Luta Livre
dan BJJ menjadi saling bermusuhan ketika Euclides Pereira mengalahkan Carlson
Gracie di tahun 1968. Permusuhan berlanjut sampai beberapa decade. Luta Livre focus
mengajar beladiri untuk orang miskin terutama keturunan Africa, sedangkan BJJ
lebih focus mengajar untuk kalangan atas khususnya keturunan kulit putih. Permusuhan
antara dua golongan ini inti nya perang antar kasta antara orang kaya dan orang
miskin.
Di tahun 1980 an, Gracie Jiu-Jitsu menjadi beladiri yang sangat popular di Brazil dan Luta Livre terbantukan popularitasnya dengan menerima tantangan dari Juara BJJ di pertandingan Vale Tudo & Submission.
Luta Livre banyak menghasilkan pertarungan – pertarungan yang terkenal di dalam maupun di luar ring. Ini termasuk pertarungan dengan Rickson Gracie yang diadakan di Pantai Brazil, yang cukup menyakitkan dimana Hugo Duarte kalah dari Rickson Gracie dan KO nya Tank About di UFC 17, serta Eugenio Tadeu kalah dari Wallid Ismael. Tadeu melakukan pertarungan dengan Royler Gracie dengah hasil Draw. Pertarungan lain antara Renzo Gracie dan eugenio Tadeu tetap berlangsung. Pertarungan dengan Renzo Gracie di tahun 1997 diakhiri dengan No Contest karena kerusuhan oleh para fans/penonton. Di Tahun 1991 Desafio menyelenggarakan 3 pertandingan antara Luta Livre vs BJJ yang dimenangkan ketiga-tiganya oleh BJJ.
Di tahun 1980 an, Gracie Jiu-Jitsu menjadi beladiri yang sangat popular di Brazil dan Luta Livre terbantukan popularitasnya dengan menerima tantangan dari Juara BJJ di pertandingan Vale Tudo & Submission.
Luta Livre banyak menghasilkan pertarungan – pertarungan yang terkenal di dalam maupun di luar ring. Ini termasuk pertarungan dengan Rickson Gracie yang diadakan di Pantai Brazil, yang cukup menyakitkan dimana Hugo Duarte kalah dari Rickson Gracie dan KO nya Tank About di UFC 17, serta Eugenio Tadeu kalah dari Wallid Ismael. Tadeu melakukan pertarungan dengan Royler Gracie dengah hasil Draw. Pertarungan lain antara Renzo Gracie dan eugenio Tadeu tetap berlangsung. Pertarungan dengan Renzo Gracie di tahun 1997 diakhiri dengan No Contest karena kerusuhan oleh para fans/penonton. Di Tahun 1991 Desafio menyelenggarakan 3 pertandingan antara Luta Livre vs BJJ yang dimenangkan ketiga-tiganya oleh BJJ.
Satu orang Fighter yaitu Marco Ruas,
akhirnya menjadi juara UFC menjadi saingan Rickson Gracie. Tidak pernah terjadi
pertarungan antara keduanya. Ketika MMA popular dan setelah BJJ banyak meraih
kesuksesan melawan praktisi Luta Livre di even MMA, banyak fighter Luta Livre
meninggalkan camp dan belajar BJJ berharap meraih kesuksesan dalam karirnya. Hugo,
Johil De Oliveira dan Eugenio Tadeu adalah atlet-atlet Luta Livre yang
terkenal melawan BJJ dalam pertarungan Vale Tudo yang diselenggarakan di Brazil.
Meskipun secara keseluruhan kalah dari Jujitsu, Luta Livre terlihat mengalami
kebangkitan dalam dunia MMA.
PENGENALAN GROUND FIGHTING
Seperti namanya, groundfighting
berarti pertarungan di atas tanah. Maksudnya, perkelahian tidak
dilakukan pada posisi berdiri, tetapi sambil berbaring dan
berguling-guling di atas tanah. Groundfighting ini termasuk teknik yang
paling sulit dipelajari karena polanya sulit untuk ditebak. Kalau sudah
berguling-guling di tanah, tentu sulit 'kan memperkirakan serangan lawan
yang akan datang?
Groundfighting diajarkan pada beberapa beladiri seperti gulat, Jujutsu, Judo, hingga beladiri militer. Untuk melakukan groundfighting, biasanya lawan akan mengawali serangan dengan leg-takedown. Apa itu leg-takedown? Jadi, musuh akan mendekap kedua kaki kita, lalu mendorong tubuh kita hingga tersungkur ke atas tanah. Jika kita sampai jatuh, kita akan berada dalam bahaya yang sangat besar.
Pertanyaan berikutnya adalah mengapa groundfighting berbahaya?
Tentu berbahaya, karena jarak pertarungan menjadi terlalu dekat dan dalam keadaan berbaring kita hanya memiliki sedikit opsi untuk bergerak, bukan begitu? Apalagi, jika lawan yang kita hadapi sangat ahli melakukan kuncian atau memegang senjata tajam, kemungkinan besar kita akan kalah.
Groundfighting hanya bisa ditaklukkan dengan groundfighting, baik teknik groundfighting yang biasa digunakan untuk olimpiade maupun teknik groundfighting "kotor" ala militer. Dan tentu saja, menang-kalah ditentukan oleh individunya masing-masing. Karena jika berbicara soal groundfighting, maka kita akan berbicara soal kecepatan, kecekatan, dan strategi yang mana tergantung kepada si groundfighter.
Groundfighting diajarkan pada beberapa beladiri seperti gulat, Jujutsu, Judo, hingga beladiri militer. Untuk melakukan groundfighting, biasanya lawan akan mengawali serangan dengan leg-takedown. Apa itu leg-takedown? Jadi, musuh akan mendekap kedua kaki kita, lalu mendorong tubuh kita hingga tersungkur ke atas tanah. Jika kita sampai jatuh, kita akan berada dalam bahaya yang sangat besar.
Pertanyaan berikutnya adalah mengapa groundfighting berbahaya?
Tentu berbahaya, karena jarak pertarungan menjadi terlalu dekat dan dalam keadaan berbaring kita hanya memiliki sedikit opsi untuk bergerak, bukan begitu? Apalagi, jika lawan yang kita hadapi sangat ahli melakukan kuncian atau memegang senjata tajam, kemungkinan besar kita akan kalah.
Groundfighting hanya bisa ditaklukkan dengan groundfighting, baik teknik groundfighting yang biasa digunakan untuk olimpiade maupun teknik groundfighting "kotor" ala militer. Dan tentu saja, menang-kalah ditentukan oleh individunya masing-masing. Karena jika berbicara soal groundfighting, maka kita akan berbicara soal kecepatan, kecekatan, dan strategi yang mana tergantung kepada si groundfighter.
Langganan:
Komentar (Atom)