Dropdown

Rabu, 25 November 2015

Perbedaan Antara LUTA LIVRE dan BJJ - Part 2

Penjelasan Tentang Perbedaan Antara LUTA LIVRE dan BJJ - Part 2

Karakteristik dari Luta Livre adalah bantingan (takedown), kuncian kaki (footlock), tumit (pergelangan kaki/heel hook), lutut (kneelock) dan tindihan otot (seperti biceps slicer, calf crush, dll.).

Untuk info, original Luta Livre sama sekali tidak familiar dengan teknik-teknik ala Jiu Jitsu seperti Kimura (ude garami), Triangle (sankaku jime) maupun konsep Guard (closed guard, pull guard, half guard).

Hanya belakangan Luta Livre "moderen" mulai menambah teknik-teknik tersebut (teknik bjj) dalam teknik mereka.

Tentu saja Luta Livre telah menjadi kendala bagi Jiu Jitsu (yang telah didirikan pada waktu yang hampir sama) dalam pertemuan Vale Tudo, sehingga persaingan besar antara keduanya (lihat tahun 1990an setelah Gracie Jiu Jitsu dan khususnya UFC masuk di Dunia Barat/Amerika Serikat).

Jadi pada tahun 1980an di Brazil, Jiu Jitsu dari keluarga Gracie meraih banyak kemenangan dalam pertandingan judo, sambo, gulat, jiu jitsu dan khususnya dalam pertandingan Vale Tudo. Dan atlit dari kalangan Gracie yang waktu itu menonjol adalah Rickson Gracie.

Para fighter dari Muay Thai akhirnya bergabung dengan para fighter dari Luta Livre untuk bisa bertahan atas perkembangan/penguatan aliran Jiu Jitsu keluarga Gracie.

Timbul-lah pertandingan Vale Tudo yang sangat terkenal juga sangat kejam.

Sejarah « panas » antara Luta Livre dan Jiu Jitsu dimulai pada tahun 1980 di Teresopolis, sebuah kota kecil dipinggiran Rio de Janeiro, dengan perkelahian antara Charles Gracie dan seorang Mario Dumo, yang adalah saudara dari Flavio Molina (guru Taekwondo dan Muay Thai). Pertikaian ini terus berlanjut di kota Rio dan Charles pergi mengeluh kepada Rolls Gracie dengan haapan masalah ini akan diatasi. Akirnya, Rolls datang ke Akademi Flavio Molina (kedatangannya bisa dikatakan sebuah « razzia ») untuk minta konfrontasi antara Charles dan Mario itu. Tapi pertarungan tersebut tak terjadi karena tiba-tiba Akdemi Flavio Molina menjadi medan tempur massal alias tawuran, yang berakhir hanya dengan kedatangan polisi.
Akar masalahnya telah terjadi antara orang-orang dari Muay Thai dan orang-orang Jiu Jitsu, namun karena orang Luta Livre sangat dekat dengan grup Muay Thai ini (banyak diantara mereka berlatih dua disiplin beladiri, seperti Marco Ruas, Luiz Alves, dll.), maka mereka akirnya terlibat juga.

Sejak saat itu, konfrontasi antar Muay Thai dan Jiu Jitsu terus meningkatkan. Para fighter dari team Gracie memang terkenal karena sering menantang disiplin bela diri lain, tapi baru pertama kali salah satu dari mereka bisa bertahan benar-benar.
Akhirnya, Flavio Molina mulai latihan gulat/groundfighting dan pada satu waktu ia pergi ke tempatnya Rickson Gracie, yang sudah menjadi pemimpin fighters dari Jiu Jitsu.
Namun Rickson beritahukan bahwa pihak Jiu Jitsu akan mengadakan Vale Tudo, dan Flavio harus menghadapi muridnya yang terbaik dulu sebelum melawan Rickson sendiri. Murid yang dipilih adalah Marcelo Behring, sabuk coklat pada saat itu.
Di pihak Muay Thai, dua petarung muda dari Luta Livre diminta untuk membela kehormatan Flavio Molina, yaitu Eugenio Tadeu dan Marco Ruas. Mereka menantang pihak Jiu Jitsu yaitu Renan Pitangui (anak buah Marcelo Behring) dan Fernando Pinduka (anak buah Carlson Gracie).

Pertemuan berlangsung pada tahun 1983 di sebuah lokasi bernama Maracanazinho dan merupakan kekalahan besar pertama dari Jiu-Jitsu. Meski Flavio Molina kalah lawan Marcelo Behring karena kurang terlatih dan kurang siap untuk pertarungan tipe Vale Tudo itu, pihak Luta Livre yang dipimpin oleh Eugenio Tadeu dan Marco Ruas telah membuktikan keseriusan mereka dan kekuatan sistem mereka : Eugenio Tadeu telah menghajar habis-habisan sih anak muda Pitangui Renan (sampai wajahnya hancur), sedangkan Marco Ruas (anak baru yang belum terkenal) bisa bertahan dan bertarung dengan Pinduka, yang dikenal sebagai hard striker dan « pecinta pertarungan yang keras/kasar/kejam ». Pertarungan antara kedua heavy weight ini berlanjut sampai ronde akhir dan dinyatakan seri (draw).

Tetapi perkelahian tidak berhenti di sini, bahkan berlanjut dikemudian hari, baik di jalan maupun di tempat latihan, dan tidak hanya melibatkan satu orang lawan satu orang, tetapi tawuran. Rickson Gracie dan Hugo Duarte, para leader dari dua disiplin itu, berantam dua kali di pantai dan tempat parkir. Pertarungan tersebut dimenangkan oleh Rickson.

Pada tahun 1991, telah terjadi konfrontasi besar yang ke-dua, di lokasi Tennis Club Grajau, dan kali ini Jiu-Jitsu, yang meraih kemenangan besar atas Luta Livre. Yang memulai pertarungan ini adalah Walid Ismail (anak buah Carlson Gracie) : melalui media/pers, ia menantang para Lutadores dengan mengatakan bahwa Jiu Jitsu adalah yang terbaik dari semua disiplin beladiri dan tidak bisa dikalahkan.

Murilo Bustamante, Marcelo Behring dan Carlson Gracie bertemu dengan Marco Ruas, Denilson Maia, Hugo Duarte dan Eugenio Tadeu agar memutuskan pengatura pertarungan antar dua kubu ini di dalam Academy. Lima petarung dari Jiu Jitsu telah ditunujuk : Walid Ismail, Amaury Bitteti, Fabio Gurgel, Marcelo Behring dan Murilo Bustamante. Tetapi akhirnya Amaury mengundurkan dirinya karena alasan kesehatan sedangkan Marcelo karena alasan cidera. Marco Ruas juga mengundurkan diri.

Akhirnya Murilo, Fabio dan Walid berlatih bersama-sama selama empat bulan di bawah naungan Carlson, dan dibantu oleh Ricardo Liborio serta Ze Mario dan juga para Jiu Jitsuka dari tim lain-lain. Ini merupakan satu-satu kalinya dimana semua fraksi Jiu Jitsu bersatu. Lain dengan kubu Luta Livre yang menunjukkan « ke-tidak-akurnya » dan tidak teralu minat untuk acara ini. Hanya sang lutador Hugo Duarte yang serius dalam persiapan fight tersebut, tetapi pada saat terakhir pihak Jiu Jitsu tidak menemukan musuh yang patut menjadi lawannya.

Acaranya berlangsung di Grajau, sebuah wilayah Luta Livre dan Muay Thai, dan diselenggarakan oleh Robson Gracie (Anak Carlos Gracie dan Ayah dari Renzo dan Ryan Gracie). Namun, lucunya kehadiran orang (penonton/suporter) Luta Livre hampir tidak ada. Melainkan, lokasinya itu dipenuhi sampai 95% oleh orang Jiu Jitsu. Mereka pada me-circle tempat tanding (ring) dan memukul para fighter Luta Livre saat mereka masuk ke arena (dari tempat Locker-room sampai di Ring). Wasit pun mengenakan T-shirt dari Federasi Jiu Jitsu.
Selama pertarungan tidak ada aturan dan semuanya diizinkan. Pertarungan ini yang dianggap paling kejam dalam sejarah Vale Tudo.

Eugenio Tadeu sangat terkenal karena sebelumnya tak pernah kalahkan sedangkan Walid dikenal sebagai orang yang suka berkelahi.

Ronde pertama sangat bagus buat Eugenio yang standup fightnya jauh lebih baik dari Wallid. Ia pun berusaha untuk melakukan Guillotine dan Kimura. Tetapi Wallid berhasil untuk melakukan escapenya dengan headbutt dan elbow strikes.

Ronde kedua Eugenio menjaga good standup fightnya dengan pukulan dan tendangannya. Tapi Wallid beberapa kali telah membanting/melakukan takedown Eugenio dan saat di ground, ia melakukan headbutt.

Pada suatu saat, mereka jatuh dari atas ring dan pertarungannya tetap dilanjutkan meski intervensi keamanan (security guard). Nasib buruk buat Eugenio: dia menerima banyak tendangan dari para pendukung Jiu Jitsu yang hadir di ringside. Eugenio tidak dapat kembali ke atas Ring, dihitung dan akhirnya pemenangnya adalah Wallid.

Pada malam itu, Fabio Gurgel dan Murillo Bustamente telah menang juga atas lawannya masing-masing (Marcelo Mendes & Denilson). Dan event ini telah disiarkan di teve nasional brasil sehingga popularitas Jiu Jitsu tambah meningkat.

Source :http://archive.kaskus.co.id/thread/1430831/30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar